Alat musik Simalungun

Gonrang Siduadua dan Gonrang Sipitupitu : Simalungun

Dalam kesenian musik, ansambel utama masyarakat Simalungun tidak jauh berbeda dengan suku Batak Toba. Terdapat dua jenis ansambel musik tradisional yang digunakan dalam kegiatan-kegiatan kebudayaan masyarakatnya. Adapun kedua ansambel musik ini adalah gonrang sidudua dan gonrang sipitupitu.

Gonrang sidua-dua sendiri adalah seperangkat alat music tradisional simalungun yang terdiri dari satu buah sarune bolon, dua buah gonrang, dua buah gonrang mongmongan dan dua buah ogung. Gonrang dalam kebudayaan simalungun disebut juga dengan mardagang yang artinya merantau atau berpindah-pindah.

Pemain Gonrang Sidua-Dua disebut Panggual. Lagu-lagu gonrang disebut Gual. Membunyikan/memainkan Gonrang disebut Pahata. Gual gonrang sidua-dua dibedakan atas dua bagian :

  1. Topapon, yaitu gual yang menggunakan dua buah gendang dan pola ritmenya sama.
  2. Sitingkahon/Siumbakon, yaitu gual yang menggunakan dua buah gendang yang masing-masing mempunyai pola ritme yang berbeda. Apabila pembawa ritme dasar oleh gonrang sibanggalan dan gonrang sietekan sebagai pembawa ritme lain, maka disebut sitingkahon. Apabila pembawa ritme dasar oleh gonrang sietekan dan gonrang sibanggalan sebagai pembawa ritme lain, maka disebut
Alat musik Simalungun

Alat musik Simalungun

Gonrang sidua-dua umumnya digunakan dalam upacara keagamaan, upacara adat, dan acara kegembiraan. Dalam upacara religi, gonrang sidua-dua umumnya digunakan di upacara pemujaan, penyembahan maupun pemanggilan roh baik dan pengusiran roh jahat.

Gonrang sipitu-pitu/ gonrang bolon adalah seperangkat alat musik tradisional Simalungun yang terdiri dari satu buah sarunei bolon pemainnya disebut parsarune, tujuh buah gonrang pemainnya disebut panggual, dua buah mong-mongan pemainnya disebut parmongmong dan dua buah ogung yang pemainnya disebut parogung. Parhata gonrang sipitu-pitu sama dengan gonrang sidua-dua. Masyarakat simalungun menyebut  gonrang ini dengan nama gonrang bolon untuk upacara adat malas ni uhur (sukaria) dan menyebutnya gonrang sipitu-pitu untuk upacara adat mandingguri (duka-cita). Gonrang sipitu-pitu biasa digunakan dalam upacara religi, upacara adat sayurmatua, atau upacara adat malas ni uhur.

Comments are closed.